Salah satu perseteruan paling terkenal dalam sejarah UFC adalah antara Jon Jones dan Daniel Cormier. Ketegangan antara keduanya dimulai ketika Cormier masuk ke divisi kelas berat ringan dan segera dianggap sebagai ancaman serius bagi dominasi Jones. Meskipun keduanya memiliki keahlian yang luar biasa dalam grappling dan striking, perbedaan gaya dan kepribadian membuat mereka sering bentrok, baik di dalam maupun di luar octagon.
Pertemuan pertama mereka di UFC 182 pada Januari 2015 menjadi sorotan utama dalam dunia MMA. Jones, yang saat itu tak terkalahkan dalam divisinya, berhasil mengalahkan Cormier melalui keputusan bulat. Namun, kemenangan itu tidak meredakan ketegangan antara mereka; sebaliknya, perseteruan semakin intens dengan perang kata-kata yang terus berlanjut di media.
Ketika Jon Jones terlibat dalam berbagai kontroversi di luar ring, termasuk kasus doping dan pelanggaran hukum, Cormier melihat kesempatan untuk merebut gelar yang ditinggalkan Jones. Cormier akhirnya menjadi juara kelas berat ringan, tetapi kemenangannya selalu dibayangi oleh ketidakberadaannya Jones di puncak kariernya.
Pertemuan kedua mereka di UFC 214 pada Juli 2017 menjadi salah satu pertandingan yang paling dinanti-nantikan. Meskipun Jones menang melalui KO di ronde ketiga, hasil ini kemudian dianulir setelah Jones dinyatakan positif menggunakan zat terlarang. Gelar yang seharusnya kembali ke Jones pun dianulir, dan Cormier dikembalikan sebagai juara.
Ketegangan antara keduanya tidak hanya terbatas pada hasil pertarungan, tetapi juga pada pandangan dan kepribadian yang sangat berbeda. Jones yang sering terlibat dalam kontroversi, dianggap sebagai "bad boy" di dunia MMA, sementara Cormier, dengan latar belakangnya sebagai atlet Olimpiade, dianggap lebih disiplin dan profesional.
Meskipun banyak yang menganggap perseteruan ini sebagai salah satu yang terbesar dalam sejarah UFC, ada juga yang percaya bahwa keduanya saling membutuhkan untuk mendorong karier mereka ke tingkat yang lebih tinggi. Rivalitas ini menciptakan drama yang menarik perhatian penggemar di seluruh dunia dan meningkatkan popularitas UFC secara keseluruhan.
Pada akhirnya, perseteruan Jon Jones dan Daniel Cormier menunjukkan bagaimana kompetisi dalam MMA bisa menjadi sangat personal. Meskipun mereka adalah dua petarung yang sangat berbakat, hubungan mereka yang penuh konflik menciptakan salah satu narasi paling menarik dalam sejarah UFC. Meskipun sudah beberapa tahun berlalu sejak mereka terakhir kali bertarung, perseteruan ini tetap menjadi bahan pembicaraan di kalangan penggemar MMA.
Perseteruan ini tidak hanya berbicara tentang kemenangan dan kekalahan, tetapi juga tentang bagaimana dua kepribadian yang sangat berbeda dapat saling mendorong untuk menjadi lebih baik, meskipun dengan cara yang sangat sengit. Dalam dunia UFC, perseteruan seperti ini adalah bagian dari apa yang membuat olahraga ini begitu menarik dan dramatis.


